dunia gila
Ketika seorang sobatmu berkata
dunia sudah gila kawan! ayo ikut aku ke surga, apa kau mau ikut gila?
Maka keluarkan uang setengah dari yang kau punya di dompet, lalu sobek-sobeklah uang itu di depan mukanya. Tampar muka temanmu, dan katakan
kalau dunia sudah gila, tugas kita sebagai pemuda adalah memperbaikinya. pergi ke surga tidak pernah menjadi solusi tepat untuk problem apapun. itu hanya bentuk ketidakmampuan seseorang untuk mengakui bahwa ia telah melakukan kesalahan, dengan menyerah.
Niscaya, sobatmu akan menamparmu balik dan menyebutmu gila karena telah menyobek uang. Kalau tidak, maka dia gila. Kecuali dia dalai lama, dan dalai lama tidak akan berbicara seperti itu.
aing ngomong apa sih. udah ah.
tidak jelas di siang hari bolong. stres TA mungkin?
cosmic link
- D: Imagine yourself, thinking about something absurd you don't even understand about. But then, this someone all of a sudden wrote exactly the same thing you were thinking.
- N: A cosmic link, perhaps? It's like, when you just met someone but it felt like you've already met that someone from a long time ago.
- D: Maybe, or let's hope so.
- Sedikit penggalan dialog nyata dengan konten cukup menarik. Entah kenapa mendadak kepikiran soal cosmic link ini.
- Penyesuaian hanya untuk alih bahasa.
Imagination
Imagination is what led Einstein to found photoelectric phenomenon then profound his theory of special relativity.
Imagination is what led Wright Bros to invent airplane from mere steel, wood and clothing.
Imagination is what led Thomas Edison to his light bulb invention on his 1000th attempt.
Imagination, is what every inventor have and utilize to do what they do best, invent.
Beside imagination, there is knowledge, hard work, and simple luck - which some people call this talent.
As long as you have one of it, success is one step ahead. Even though one step sometimes had a meaning that you need to acquire the rest three.
Imagine it.
karunia
Hidup adalah karunia paling berharga yang diberikan Tuhan pada manusia. Bagaimana bisa?
Didalam hidup ini, kita diberikan banyak pilihan yang berbeda akan jalan mana yang ingin kita tempuh dan ingin menjadi apa kita, meskipun sejarah membentuk kita menjadi sesuatu semenjak kita lahir. Sepertipun kebebasan. Meskipun ada konsekuensi disini dan disana.
Bicara hati nurani, pahamilah bahwa kita membutuhkan orang lain dalam hidup ini. Kita tidak bisa melakukan apa-apa bila kita tidak bersifat sosial. Satu saat kita butuh bantuan atau kita bisa memberikan bantuan. Dan sebenarnya, bersosial merupakan kebutuhan hidup utama manusia, membuat segalanya menjadi semakin mudah.
Pilihan, yang memberikan kita kebebasan, memiliki konsekuensi yang mempengaruhi kebutuhan utama kita sebagai manusia, karena konsekuensi tersebut mempengaruhi orang lain juga. Pertanyaannya sekarang, seberapa banyakkah pilihan kita mempengaruhi orang lain? Bagaimana itu mempengaruhi mereka? Apa yang akan terjadi jika ternyata pengaruhnya baik, atau bahkan buruk?
Jawabannya, adalah apa yang membuat hidup adalah karunia Tuhan paling indah. Karena kita tidak akan pernah tahu hasil akan sesuatu sebelum kita mencobanya. Karena kita hanya bisa berencana, namun Tuhan yang menjawab segalanya tanpa sedikitpun cela, hingga pada akhirnya bergantung pada kita lagi untuk mengakuinya atau tidak.
Kita mengajarkan pada anak-anak, bahwa kesulitan dalam hidup adalah cara Tuhan mengetes kita apakah kita orang yang oke untuk masuk dalam surga-Nya. Tapi realitanya karena kita sedang membicarakan hidup, adalah bagaimana Tuhan menjawab doa-doa dan pertanyaan kita.
Bagaimanapun juga, ketidakpasitan adalah apa yang mengisi hidup kita sehari-hari. Karena kita tidak akan pernah tahu bagaimana Tuhan menjawab doa kita, namun kita tahu bahwa Dia akan menjawabnya. Dan suatu hari, ketika kita melihat kembali kedalam masa lalu kita, kita akan tahu apabila Tuhan telah menjawab pertanyaan kita atau belom.
Untuk sekarang, tetaplah bertanya, tetaplah berdoa, tetaplah menjalani kehidupan. Karena kesempatan tidak akan datang dua kali, begitu juga dengan hidup.
gift
Life is God’s greatest gift, given to human being. How so?
In life, we are given many different choice of what we want to be, even though there’s such things called history whatsoever which been shaping us since we had born. Just like freedom. Even though, there’s consequences here and there.
Conscience based, understand first that we do need other people in life. That we won’t be able to do anything if we have no social or something else. Then, we will need help. Or better, we can give help. And since the primal needs of human is being social, the algorithm just get simpler.
Choices, which gives us freedom, had consequences affecting our primal needs as a human being, and that is because it affects others too. Now the question is, how much does our choices affects other people? How does it affect them? What will it be then when it turns out to be good? Or even bad?
The answer is what made life, is God’s greatest gift. Because we will never know until we try. Since we can only plan, but God gives us the answer truthfully without lies, so it depends on us to fully acknowledge it or not.
Basic ideas that we taught our children, is challenges in life are just God’s way to test us if we are cool enough to get in His heaven. But in reality since we are talking about life, is how God answers to our questions, or maybe our favors.
Either way, it’s uncertainty which fills us most of the life we live. Because we’ll never know how God will answer to our prayer, but we know that He will answer. And one day when we look back to our life, we will know if God had answered the question or not.
So for now, keep asking, keep questioning, keep praying, keep living your life. Because opportunities won’t come twice, so does life.
lola si ahli nujum
- Jadi, gue kaya udah berbulan-bulan nggak ngobrol sama bocah @NyimasLaula. Kebetulan kemaren dia ke LFM jadi ngobrollah kita singkat. Tumbennya tentang cinta, karena gue juga lagi males ngomongin masa depan ataupun sesuatu yang absurd-absurd. Trus kan dia nanya siapa kecengan gue sekarang.
- N: Siapa kaak, aku tau ga?
- D: Ada lah, sempet ngeceng anak SR juga lho
- N: Siapa sih, si D ya? (menyebut nama panggilan seseorang yang 100% mirip dengan nama panggilan kecengan gue sekarang)
- D: #shock hah? Kok tau? Siapa nama panjangnya?
- N: Si *disensor* kan?
- D: Oh, bukan #dalamhati #lega haha entah kenapa bisa mirip. Bukan kok, yang anak SR sih ada lah sebelom ini, tapi katanya udah punya pacar cah
- N: Siapa siapa?
- D: Adalah senior kamu. Jurusannya... Desain *sensor* kalo gasalah.
- N: Siapa? Si A? (menyebut nama depan seseorang yang 100% sama, dan kebetulan unik jadi pasti dia)
- D: HAH? Kenapa nebaknya dia?
- N: Gatau, nebak aja
- D: ... Kamu punya indra keenam ya? Ya ya percaya sih kalo gitu mah.
- Lola pasti ahli nujum. Tenang cah, kalo kamu masih bingung masa depan mau jadi desainer atau fotografer, bisa tambah lagi satu, ahli nujum! #tidakmembantu #ngakak
enkripsi logika
Kembali lagi pada dunia enkripsi dan logika. Kenapa?
Bukankah hidup lebih indah bila subjek dan objek berpredikat dan berketerangan?
Apakah memang sosialita manusia tak bisa hidup tanpa rasa tertarik dan bimbang akan pemecahan enkripsi?
Ataukah ketidakmampuan kita menyebabkan segala hambatan dan tantangan untuk menciptakan logika diluar batas kemampuan kita?
Masih bertanya?
narasi
Hari dimana matahari bersinar terang, mencerahkan harapan. Namun, aku hanya bisa terdiam dan menunggu malam, hingga hari kembali sunyi.
Dengan segala sihirnya, semesta masih menyimpan banyak rahasia. Malam memberikan jutaan gemerlap bintang dan terangnya cahaya bulan menerangi jalan, memberi harapan.
Seperti secangkir teh manis panas setelah pahitnya kopi hitam.
Seperti malam benderang setelah siang yang kelam.
Apakah semua ini hanya kebetulan?
Regret because you’ve done it, not because you didn’t do it
anonymous.
Sebenarnya, gue ngga pernah tau apa yang menginspirasi gue untuk memegang kata-kata di atas sebagai patokan hidup. Hingga kemarin gue sendiri lupa, apa sebenarnya makna dan tujuan dari kata-kata diatas.
Seperti yang kita tahu, penyesalan selalu datang belakangan. Setiap manusia pasti memiliki penyesalan yang berbeda dengan sebab yang berbeda pula. Namun, seringkali penyesalan ini datang akibat adanya pilihan dilema antara melakukan sesuatu, atau tidak melakukan sesuatu.
Hidup itu tidak pernah eksak, tentu. Yang eksak hanyalah ketidakpastian itu sendiri, hanyalah delta error dari hidup ini yang pasti ada. Dan pastinya, berbagai pilihan akan memberikan berbagai hasil yang berbeda pula.
Ketika kita sedang dihadapkan pada sebuah pilihan, yang mana keduanya akan menghasilkan penyesalan, maka pilihlah untuk lakukan itu. Kenapa? Menurut gue, pengalaman itu terlalu berharga untuk dilewatkan. Tentu saja sistem pilih memilih ini tidak berlaku untuk hal-hal amoral dan asusila.
Apa sih ruginya mencoba hal yang baru, semisal mendekati seseorang? Mendatangi undangan untuk interview kerja? Mencoba makan di tempat yang baru saja buka? Mempercayai orang? Setelah kita memilih, kita akan menyesal, tapi itu adalah kondisi jika dan hanya jika pilihan kita ternyata memberikan kesalahan. Namun, kesalahan terbesar adalah apabila kita tidak menganalisis kondisi dan tidak belajar dari kesalahan yang sudah pernah kita lakukan, sehingga pada pengambilan keputusan berikutnya kita melakukan kesalahan yang sama lagi.
Apa untungnya? Itu namanya mencoba belajar keluar dari comfort zone. Kalau manusia tidak mencoba, tidak akan pernah bisa belajar.
Lagian, biasanya ketika kita dihadapkan pilihan seperti itu - diluar berat bobot pemikiran atau tidaknya - biasanya 70% tidak akan mendatangkan penyesalan. Sedangkan, ketika kita tidak melakukan sesuatu, maka 70% akan mendatangkan penyesalan.
Lantas, pertanyaannya, siapkah kita?
onto July of these 6 years
Sepertinya, menjelang Juli selalu menjadi bulan-bulan paling sibuk dan bikin deg-degan. Ya kadang bulan-bulan lain juga sih, seperti menjelang Desember, Januari dan Februari. Tapi kalo dirunut yang bikin susahnya paling lama, ya si menjelang Juli ini.
5 tahun yang lalu (2007) menjelang Juli sibuk ngurusin kosan, daftar ulang USM, nemenin pacar mantan belajar buat SPMB, dan ngurus buku taunan.
4 tahun yang lalu (2008) menjelang Juli paling nggak sibuk dan paling liburan juga. Nyasar di Ujung Genteng, osjur HIMAFI, dan ngurusin tetek-bengek peralatan vcd wisuda dibawah Ijul. Nggak sibuk itu relatif kan ya?
3 tahun yang lalu (2009) menjelang Juli paling sibuk mungkin, karena jadi pimpro wisuda Juli di LFM sambil jadi staf pendidikan. Nelponin orang-orang dari teh Neti, bu Anis, sampe kruba-kruba 2008 jaman itu. Terus juga mikirin pendidikan cakru bareng Cupris sama Bravo. Katanya gue mengurus hingga turun 7 kilogram, tapi entah kenapa pas hari H wisuda Juli celana bahannya tetep sempit.
2 tahun yang lalu (2010) menjelang Juli paling was-was, ketika jadi Manajer Pendidikan. Dari persiapan LKO yang belum kunjung jelas padahal di timeline harusnya udah kekejar banyak hal, sampe ngawasin jalannya workshop-workshop yang alhamdulilahnya lancar dan nggak banyak masalah.
1 tahun yang lalu (2011) menjelang Juli paling aneh sepanjang sejarah karena ketidakpastian KP. Dan salah satu turning point yang akhirnya mengubah pola pikir gue dan cara pandang akan rumitnya dunia kerja serta dunia TA.
Tahun ini (2012) menjelang Juli paling rumit, was-was, sibuk, serba nggak pasti, dan paling mahal sepanjang sejarah gue hidup. Penyebabnya cuma 1 hal: TA. Tapi berdasarkan segala pengalaman, semakin tinggi tingkat kesibukannya, semakin besar kepuasan akan pengalaman yang didapatkan. Rasanya, menjelang Juli kali ini akan jadi salah satu penentu yang paling besar dalam hidup.
Menjelang 14 Juli 2012. Mudah-mudahan.